Tawakkal merupakan satu kondisi dimana seseorang menyandarkan, mempercayakan, atau menyerahkan suatu urusan kepada pihak lain. Sebagai seorang muslim, tawakkal kepada Allah berarti menyandarkan dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Sikap tawakkal ini merupakan salah satu bentuk ibadah.

Tawakkal juga merupakan perwujudan dari keimanan dalam diri seorang muslim. Sehingga, orang dengan iman yang benar hanya akan bertawakkal kepada Allah saja. Hal ini sejalan dengan salah satu ayat dalam al-Quran, yaitu:

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman
QS. Al-Maidah: 23

Tawakkal yang salah dapat membawa seseorang kepada syirik. Baik syirik kecil ataupun syirik besar. Karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana tawakkal yang benar dan yang tidak.

1. Tawakkal yang Mengandung Syirik Besar

Dalam kehidupan, seorang manusia pasti menemukan perkara – perkara yang sebenarnya hanya mampu dilakukan oleh Allah. Seperti keselamatan diri atas hal yang tidak terduga, selamat dari musibah besar atau bencana alam, dan lain sebagainya.

Sama halnya dengan rezeki, perkara tersebut hanya bisa diatur oleh Allah. Dan sebagai manusia, tugas kita adalah bertawakkal atas ketetapan Allah. Saat perkara tersebut diserahkan kepada selain Allah, maka tawakkal-nya bisa masuk ke dalam syirik besar.

Contohnya saja, saat seseorang mempercayakan keselamatan diri atau rezekinya kepada orang yang sudah mati, setan, atau makhluk gaib lainnya. Termasuk juga malaikat.

2. Tawakkal yang Mengandung Syirik Kecil

Meskipun terkesan ringan, syirik kecil sama fatalnya dengan syirik besar dan harus dijauhi. Bedanya, saat seseorang melakukan syirik besar, maka orang tersebut bisa dianggap berpaling dari agama bahkan murtad. Sedangkan orang yang melakukan syirik kecil, dia tidak keluar dari Islam, namun dosa yang ditanggung pun tetap besar.

Syirik kecil dalam tawakkal lebih terllihat, rasional, logis, dan realistis dibandingkan dengan syirik besar dalam tawakkal. Misalnya, saat seseorang melakukan tawakkal kepada penguasa, polisi, orang tua, atasan, pengawal pribadi, dan lain sebagainya.

Bertawakkal kepada manusia dan menganggap bahwa rezeki dan keselamatan ada di tangan mereka adalah satu bentuk tawakkal yang salah. Apalagi jika dilakukan tanpa bertawakkal kepada Allah. Padahal, keselamatan seorang manusia tidak tergantung pada seberapa banyak pelindung yang dimilikinya. Begitu juga dengan rezeki. Rezeki seseorang tidak hanya bersumber dari atasannya saja.

Ketika seseorang measa bahwa pelindung dan pekerjaannya sudah cukup menjamin keselamatan dan kehidupannya, tanpa melibatkan tawakkal kepada Allah, pada saat itulah orang tersebut jatuh kepada syirik kecil.

3. Tawakkal yang Diperbolehkan

Lalu, bagaimana bentuk tawakkal yang benar dan diperbolehkan dalam Islam?

Pada dasarnya, tawakkal adalah hal yang baik dan dianjurkan. Bahkan bisa bernilai ibadah saat dilakukan dengan benar. Tawakkal yang benar adalah tawakkal yang dilakukan hanya kepada Allah. Tanpa adanya wakil atau sikap mendua kepada makhluk Allah lainnya.

Sebagai ilustrasi, bisa diibaratkan saat kita menitipkan barang jualan kepada orang lain yang pandai menjual. Kita mengakui bahwa orang tersebut mampu menjual barang kita. Namun, tetap saja kita dibolehkan tawakkal kepada orang tersebut. Tawakkal tetap diberikan kepada Allah. Yaitu dengan mendoakan kemudahan urusan orang tersebut kepada Allah.

Itulah beberapa perkara terkait tawakkal yang perlu diketahui. Dengan memahami hal tersebut, maka kita bisa lebih berhati – hati dan menjaga tawakkal tetap baik dan benar. Sehingga, tawakkal yang kita lakukan bisa bernilai ibadah dan bukannya menambah dosa.

Share This

Share This

Share this post with your friends!