Orang yang berilmu itu istimewa. Allah pun memberikan kedudukan yang khusus dibandingkan orang yang belum atau enggan untuk menuntut ilmu.

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS Al-Mujadalah: 11)

Orang yang diberikan ilmu pengetahuan diangkat beberapa derajat. Sungguh istimewa. Lantas tidakkah kita ingin mendapatkan kedudukan yang istimewa di sisi Allah?

Bukan hanya di sisi Allah saja orang yang berilmu itu istimewa. Di sisi manusia pun mereka pastinya mendapatkan keistimewaan yang khusus. Banyak yang belajar darinya, banyak yang nyaman duduk bersamanya, dan banyak yang mencintainya. Tapi cukupkah hanya dengan menjadi sosok yang berilmu?

Ada satu hal penting yang tak boleh kita abaikan dalam berilmu, yaitu adab. Maka penting bagi kita untuk beradab sebelum berilmu. Maka bukan hal yang aneh lagi para ulama pun banyak berpesan atas hal ini.

Mendahulukan adab dibandingkan ilmu. Seperti yang disampaikan Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah yang pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa para ulama berpesan untuk mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Bahkan adab butuh waktu lebih banyak untuk dipelajari dibandingkan ilmu. Ibnul Mubarok berkata,

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Jika para ulama saja banyak berpesan agar kita lebih mendahulukan adab dibandingkan ilmu, lantas apa landasan kita untuk mendahulukan ilmu dibandingkan adab? Bisa jadi ada yang keliru dalam hidup kita. Tujuan berilmu bukan untuk penilaian Allah, tapi agar terlihat mulia di mata manusia. Bisa jadi seperti itu. Tapi siapa yang tahu selain hati diri sendiri?

Tapi coba saja tanya pada hati sendiri. Mana yang lebih nyaman untuk kita lihat, orang yang berilmu tapi adabnya kurang, atau orang yang adabnya baik tapi ilmunya kurang. Cenderung bagi kita untuk mendahulukan orang yang beradab karena akan ada kenyamanan bersamanya. Tapi tentu, dua pilihan tadi bukanlah pilhan yang terbaik. Karena jauh lebih penting bagi kita untuk menjadi berilmu dan beradab. Tapi untuk berilmu butuh adab.

Sabar dalam menuntut ilmu, dipelajari dari adab. Paham atas ilmu, dipelajari dari adab. Tersebarnya ilmu, dipelajari dari adab. Mari dahulukan adab dibandingkan ilmu.

Tidak cukup hanya dengan membaca artikel ini saja. Coba pelajari buku yang membahas adab, hadiri kajian yang membahas adab, dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena dari peradaban ada kata adab, maka sungguh adab perannya begitu besar.

Share This

Share This

Share this post with your friends!