Berapa usiamu sekarang? Sudah sejauh apa halaman Al-quran yang dibaca? Sudah sebagus apa kualitas bacaan Al-Quranmu?

Jika mengingat kembali pengalaman di masa lalu, setiap dari kita pasti punya pengalaman berkesan ketika belajar Al-quran. Ada yang dulunya memulai bacaan dengan buku Iqra. Ada yang dulunya tak jauh dari pukulan rotan para asatidz karena malas-malasan. Ada juga yang terus semangat membaca hingga berlanjut dengan memulai hafalan. Tapi tunggu dulu. Sebelum jauh-jauh menghafal Al-Quran, mari mulai dengan memperbaiki bacaan. Membaca dengan tartil. Nah, apa itu tartil?

Tartil dalam artian sederhananya adalah membaca ayat Al-Quran dengan tajwid dan makhraj yang benar. Nah, apa lagi tajwid dan makhraj?

Tajwid adalah hukum bacaan Al-Quran. Umumnya ada ikhfa, iqlab, idgham, dan izhar. Sedangkan makhraj berasal dari kata kharaja yang bermakna keluar. Tempat keluar bacaan Al-Quran dari bagian mulut yang mana. Jadi dapat disimpulkan membaca dengan tartil adalah membaca Al-Quran dengan sebaik-baiknya.

Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil.
 (Al-Muzammil: 4)

Membaca dengan sebaik-baiknya tentu tidak bisa dicapai jika tidak paham ilmu tajwid. Selain itu, tidak mungkin juga bacaan tartil dicapai dengan terburu-buru. Maka penting bagi kita untuk membaca dengan perlahan plus paham dengan hukumnya.

Kenapa penting membaca Al-Quran dengan tartil? Karena jika salah bacaan, salah pula artinya. Dan jika salah arti, tentu kita yang membaca akan mendapatkan dosa. Apalagi jika enggan memperbaiki kesalahan.

Kejadian yang mungkin sebagian dari kita pernah merasakan. Pernah kah ketika kamu shalat berjamaah, imam yang memimpin shalat membaca dengan berantakan? Apa yang harusnya dibaca ha dibaca kha. Dan seterusnya, banyak bacaan lain yang hampir mirip bacaannya tapi beda cara penyampaian dan artinya. Contoh paling sederhana adalah kalbun dan qalbun. Yang satu menggunakan kaf yang artinya adalah hati, sedangkan yang satunya menggunakan qaf yang artinya anjing. Hampir mirip tapi artinya jauh berbeda.

Kita sama-sama tahu bahwa Al-Quran adalah kitab suci. Tapi kita lupa atau abai dalam memperlakukan Al-Quran sebagai kitab suci. Kita hanya terbiasa dengan ritual seperti mencium ketika jatuh atau meletakkan di tempat yang semestinya. Tapi kita lupa untuk memperbaiki bacaan Al-Quran padahal sejatinya inilah yang jauh lebih penting dibandingkan ritual saja.

Kapan terakhir kali kamu membaca Al-Quran? Apa rasanya? Biasa saja? Bisa jadi, mungkin karena kita menjadikannya sebagai ritual tanpa makna saja. Kita tabrak semua cara baca sesuai apa yang kita suka.

Tidakkah kita menginginkan rasa nikmat saat membaca Al-Quran? Tentu setiap dari kita menginginkan. Maka cara yang paling sederhana adalah membaca dengan tartil. Yuk perbaiki bacaan Al-Quran kita agar lebih merasakan maknanya.

Share This

Share This

Share this post with your friends!