Di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, kaum muslim mengalami banyak dinamika dan peristiwa penting. Tak hanya peperangan, Nabi Muhammad SAW juga telah membawa Islam pada sejarah kemenangan yang penting, yaitu pembebasan kota Makkah atau biasa disebut Fathu Makkah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadan tahun delapan Hijriyah.
Peristiwa besar ini bermula saat adanya Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Inti dari perjanjian itu adalah adanya kesepakatan bahwa siapa saja boleh memilih untuk bergabung di kubu mana pun, baik kubu Nabi Muhammad SAW maupun kubu kaum Quraisy Makkah. Suku Khuza’ah memutuskan untuk bergabung dengan kubu Nabi Muhammad SAW dan suku Bakr memilih untuk bergabung dengan kubu kaum kafir Quraisy Makkah. Pada zaman jahiliyah, kedua suku tersebut punya riwayat terjadinya pertumpahan darah dan permusuhan. Namun, dengan adanya Perjanjian Hudaibiyah, kedua suku tersebut melakukan gencatan senjata.
Bani Bakr ternyata merencanakan serangan diam-diam terhadap suku Khuza’ah, dan penyerangan tersebut dibantu oleh kaum kafir Quraisy. Menghadapi serangan tersebut, suku Khuza’ah pun melaporkannya pada Nabi Muhammad SAW. Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, orang kafir Quraisy pun mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk membujuk Rasulullah dan memerbarui isi perjanjian. Sayangnya upaya tersebut tidak diindahkan oleh Rasulullah, hingga Abu Sufyan memutuskan untuk mendatangi Abu Bakar dan Umar agar membantunya. Lagi-lagi, usaha tersebut gagal.
Sebagai upaya selanjutnya, Abu Sufyan pun memutuskan untuk menemui Ali bin Abi Thalib. Namun, permintaan itu pun ditolak oleh Ali. Penghianatan tersebut membuat Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabat untuk menyiapkan senjata dan pasukan perang. Beliau mengajak para sahabat untuk menyerang Makkah. Nabi pun bersabda,
“Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”
Rasul pun mengutus pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah pada awal bulan Ramadan. Hal ini dilakukan agar ada anggapan bahwa Rasulullah akan menuju perkampungan tersebut. Sementara itu, ada seorang sahabat Muhajirin, Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat untuk dikirimkan ke orang Quraisy. Surat tersebut berisi kabar bahwa Nabi Muhammad SAW telah berangkat menuju Makkah untuk melakukan serangan dadakan.
Dengan kebesaran Allah, Nabi pun mengetahui pengiriman surat tersebut dan mengutus sahabat Ali bin Abi Thalib untuk mengambil surat tersebut dan menyerahkannya pada Rasulullah. Rasul pun menanyakan perihal surat tersebut pada Hatib, dan ia menjawab bahwa hal itu dilakukan agar kemudian kaum musyrikin Quraisy melindungi keluarga dan kerabat yang ada di lingkungan Quraisy.
Sangat bermanfaat trims