Peristiwa surat yang dikirim Hatib bin Abi Balta’ah bukanlah akhir dari Fathu Makkah. Rasulullah pun tetap membawa sepuluh ribu pasukan keluar Madinah menuju Makkah, dan beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan saat sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah. Beliau juga mengangkat Umar radhiyallahu ‘anhu sebagai penjaga.

Abbas, paman Rasulullah yang ditemui di tengah perjalanan dan akhirnya mengikuti pasukan pun pergi ke menuju Makkah. Ia mencari penduduk Makkah agar mereka keluar dan menemui Nabi Muhammad SAW untuk meminta jaminan keselamatan, sehingga tidak akan terjadi pertumpahan darah di Makkah. Pada saat itu, Abbas bertemu dengan salah satu pimpinan kaum Quraisy, Abu Sufyan. Abbas mengatakan bahwa Rasulullah akan memenggal leher Abu Sufyan jika ia kalah dari peperangan. Abbas meminta Abu Sufyan untuk ikut dengannya menemui Rasulullah, dan Abu Sufyan pun mengikutinya.

Saat bertemu dengan Abu Sufyan, Rasulullah menekankan kembali agar Abu Sufyan mau menyembah Allah tanpa ada sembahan yang lain dan Rasulullah sebagai utusan Allah. Melalui pertemuan tersebut, Abu Sufyan pun akhirnya masuk Islam. Saat Nabi Muhammad SAW dan pasukan melanjutkan perjalanan menuju Makkah, Rasulullah memerintahkan Abbas untuk membawa Abu Sufyan menuju jalan pintas agar nanti dapat melihat semua pasukan kaum muslimin.

Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan sangat takjub saat melihat pasukan yang begitu banyak dan menanyakannya pada Abbas. Abbas pun menjawab bahwa pasukan tersebut adalah Rasulullah bersama kaum Muhajirin dan Anshar. Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad, dan ia berkata pada Nabi Muhammad SAW bahwa hari ini adalah hari dihalalkannya darah di tanah haram, karena kaum kafir Quraisy akan dihinakan. Namun Nabi Muhammad SAW justru menegaskan bahwa sesungguhnya hari ini adalah hari diagungkannya ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.

Perjalanan pun dilanjutkan, hingga sampai di tanah Makkah Rasulullah menundukkan kepala sebagai rasa tawadlu’ pada Allah Penguasa Alam, dan membacakan firman Allah:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.
QS. Al Fath: 1

Setelahnya, Rasulullah berkata pada penduduk Makkah,

“Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”

Beliau terus berjalan hingga Masjidil Haram, dan thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling ka’bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.
QS. Al-Isra’: 81

Rasul pun memasuki ka’bah dan memerintahkan pasukan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam ka’bah. Setelahnya, Rasulullah melaksanakan salat lalu mengitari ka’bah sambil bertakbir di pojok-pojok ka’bah. Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau bersabda:

“لا إِله إِلاَّ الله وحدَّه لا شريكَ له، لَهُ المُلْكُ وله الحمدُ وهو على كَلِّ شَيْءٍ قديرٌ، صَدَقَ وَعْدَه ونَصرَ عَبْدَه وهَزمَ الأحزابَ وحْدَه

“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”

Sejak saat itu, Makkah pun telah bebas dan menjadi negeri Islam, sehingga tidak ada lagi hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Share This

Share This

Share this post with your friends!