Di sebuah grup muncul diskusi menarik tentang wisata halal. Bagi sebagian orang, ini menjadi kontroversi. Alasannya sederhana. Karena tidak semua orang di daerah yang diwacanakan menjadi destinasi wisata tersebut adalah Muslim. Tapi muncul lagi pertanyaan, memangnya halal hanya untuk Muslim?
Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia
(QS. Al Anbiya: 107)
Islam melalui perantara Nabi Muhammad adalah rahmat semesta alam. Perhatikan baik-baik redaksional yang digunakan. Bahwa Islam adalah rahmat semesta alam, bukan rahmat hanya kepada Muslim saja. Rahmatal lil alamin, bukan rahmatal lil muslimin. Maka dari tujuannya saja, kita sebagai Muslim tidak perlu inferior atau mencari-cari pembenaran bahwa hukum Islam yang digunakan hanya untuk Muslim saja. Padahal keutamaan dari setiap hukum tersebut pun bisa dibuktikan secara ilimiah dan dirasakan oleh jiwa terhadap siapa saja. Baik Muslim ataupun nonmuslim.
Salah satu contoh yang paling sering digunakan adalah makan daging babi.
Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(QS Al-Baqarah : 173)
Secara hukum, Allah sudah jelas mencantumkan dalam Al-quran. Secara ilmiah pun dibuktikan ada banyak dampak buruk dari babi. Mulai dari cacing pita, kolestorol yang tinggi, hingga sifat babi yang makan apa saja.
Sebagai hamba yang beriman, sesungguhnya cukup bagi kita atas perintah Allah untuk ditaati. Hanya saja seringkali kita mencari alasan-alasan untuk lebih meyakinkan diri. Hikmah atas perintah Allah pasti ada. Hanya saja belum tentu pikiran kita mampu mencapai hikmah tersebut.
Dari makanan berpindah ke sektor halal lainnya. Karena halal bukan hanya makanan, tapi seluruh aspek kehidupan. Misalkan saja tentang wacana wisata halal tadi. Bagaimana mungkin seorang Muslim bisa alergi dengan syariat Islam tersendiri dengan modus “kan nggak semuanya Islam.” Maka cukuplah kita kembali pada hukum dasarnya, bahwa Islam adalah rahmat semesta alam, bukan rahmat hanya untuk Muslim saja.
Memangnya wisata halal seperti apa?
Global Muslim Travel Index (GMTI), sebuah standar yang disusun oleh Crescent Rating pun berhasil mengidentifikasi standar wisata halal di dunia sebagai berikut:
- Destinasi Ramah Keluarga
- Tujuan wisata harus ramah keluarga dan anak-anak.
- Keamanan umum bagi wisatawan muslim.
- Jumlah kedatangan wisatawan muslim yang cukup ramai.
- Layanan dan Fasilitas di destinasi yang ramah Muslim (Muslim-Friendly):
- Pilihan makanan yang terjamin kehalalannya.
- Akses ibadah yang mudah dan baik kondisinya.
- Fasilitas di bandara yang ramah muslim.
- Opsi akomodasi yang memadai.
- Kesadaran halal dan pemasaran destinasi:
- Kemudahan komunikasi.
- Jangkauan dan kesadaran kebutuhan wisatawan muslim.
- Konektivitas transportasi udara.
- Persyaratan visa.
Dari indikator di atas, tidak ada indikator yang malah mengganggu kebutuhan nonmuslim bukan? Lantas kenapa begitu cepat anti dengan syariat halal? Kita hanya butuh lebih banyak edukasi perihal halal secara konteks kehidupan yang luas. Bukan hanya sebatas makanan dan minuman saja.