Sombong dan Riya merupakan sama-sama penyakit hati yang tentunya tidak disukai oleh Allah Swt. Perbedaan Sombong dan Riya hanya dari segi pengertiannya saja. Sombong itu lebih cenderung sikap seseorang yang merasa dirinya paling sempurna dan menganggap orang lain rendah di matanya. Sedangkan Riya merupakan sikap yang merasa senang cenderung berlebihan dalam mendapatkan pujian, serta merasa pamer atas apa yang telah dia punya. Tapi yang jelas, kedua itu sama-sama penyakit hati. Dan keduanya tentu amat berbahaya jika tidak segera kita hilangkan, serta amat buruk lantaran tidak disukai oleh Allah Swt.
Terutama sombong. Sebuah sikap serta penyakit hati yang paling tidak Allah Swt sukai. Lihatlah sejarah, bagaimana Iblis dikeluarkan dari Surga akibat sikapnya yang sombong, lantaran tak mau menuruti perintah Allah Swt untuk bersujud kepada Adam as. Dari situ seharusnya kita sudah amat tahu dan jelas, bahwa sejatinya sebagai hamba Allah tak patutlah kita merasa berbangga diri dan bersikap sombong. Apalah guna kita bersikap sombong, dan tak patut juga, karena kita hanyalah kecil di mata Allah Swt dibandingkan seluruh alam semesta yang telah Dia ciptakan.
Dan Allah Swt pun juga sudah dengan tegas menyatakan sikap-Nya dengan orang atau hamba-Nya yang sombong. Allah Swt berfirman dalam Q. S. Al-A’raf [7]:146),
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.
Dan dalam salah satu hadits qudsi Rasulullah Saw bersabda:
Kesombongan itu adalah kain selendang-Ku dan kebesaran itu kain sarung-Ku. Barangsiapa melawan Aku pada salah satu dari keduanya, niscaya Aku melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.
(Hadis Qudsi)
Menurut Al-Ghazali, kesombongan adalah suatu sifat di dalam jiwa yang tumbuh dari penglihatan nafsu. Sifat ini bermula dari virus hati yang menganggap dirinya paling mulia dan terhormat. Sedangkan orang lain dalam pandangannya adalah hina dan tercela. Maka sikap sombongnya ini hampir sama seperti sikap iblis yang tak mau sujud pada Adam ketika Allah memerintahkan mereka, dan mengatakan:
… Aku lebih baik dari padanya (Adam). Aku Engkau ciptakan dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah
(Q.S. Shad: 76).[1]
Hakikat sombong, menurut Al-Ghazali, adalah apabila seseorang memandang dirinya lebih unggul daripada orang lain dalam segi kesempurnaan sifat. Dan sesungguhnya sifat ini menyebabkan kehinaan dan kegoyahan akidah.
Sedangkan Riya, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Bahwa Riya merupakan derivasi dari kata Ra ‘a yang artinya melihat, lalu araa yang artinya memperlihatkan dan ru’yah (melihat). Inti konsep riya adalah mencari muka, atau kedudukan di hati manusia, dengan mempertunjukkan hal-hal yang baik.
Agar tidak disalahfahami, persoalan riya tidak terletak pada persoalan mendapatkan kedudukan itu sendiri, atau melakukan perbuatan baik itu sendiri, melainkan terletak pada adanya motif halus terselubung untuk mencari kedudukan dalam melakukan suatu perbuatan. Seorang nabi adalah orang yang terpandang di penjuru dunia, namun beliau tidaklah riya, karena beliau tidak mengejar status terpandang selama hidupnya. Seluruh kehidupannya diperuntukkan hanya untuk pengabdian kepada Allah. Kemasyhuran beliau merupakan kemasyhuran sebagai buah anugrah Allah atas pengabdiannya.
Demikianlah penjelasan mengenai Sombong dan juga Riya. Semoga kita senantiasa menjaga hati ini dari penyakit-penyakit hati tersebut, supaya kita menjadi hamba-Nya yang taqwa.