Setelah membaca liputan rihlah bagian pertama, selain melihat kegiatan siswa-siswa SDIT Al Hasanah Bengkulu, kita juga terbuka tentang apa itu rihlah dan tujuan diadakannya. Mari kita lanjutkan ke bagian kedua.
Siswa sangat menikmati perjalanan. Di setiap destinasi, belajar hal baru yang biasanya hanya sebatas teori di buku, kali ini bisa bertatap muka. Bertatap muka dengan praktisi di bidangnya dan objek-objek di lokasi.
Beranjak ke DEKRANASDA, para siswa melihat hasil kerajinan yang inspiratif. DEKRANASDA (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Bengkulu dikelola oleh pemerintahan provinsi Bengkulu. Banyak hal yang bisa ditemui di sini.
Sejalan dengan misi “Bengkulu yang berdaya saing tinggi”, di sini banyak barang-barang hasil olahan yang berasal dari bahan unggulan daerah. Sengaja diolah dan diproduksi supaya produk yang dihaislkan punya nilai ekonomis dan kompetitif.
Pemanfaatan bahan-bahan alam yang bisa diolah menjadi barang-barang yang bernilai. Ada hasil kerajinan untuk fashion seperti tas dan topi, ada untuk dekorasi rumah seperti lampu, tempat tissue, tempat sampah, sampai barang dengan tingkat detil tinggi seperti kapan yang dibuat dari rotan dan kayu.
Kegiatan rihlah di SDIT Al Hasanah menjadi salah satu strategi mengajak para siswa melakukan perjalanan bersama sambil di satu waktu bisa menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam. Ketika mendengar istilah rihlah, warga SDIT mengasosiasikan dengan Kunjungan Edukasi: ada perjalanan dan ada pembelajaran.
Semoga kegiatan rihlah yang dikemas dengan cara kreatif dan berbeda setiap tahunnya ini bisa berdampak positif bagi siswa-siswa SDIT Al Hasanah. Tidak hanya kepuasan dan kegembiraan baik sesaat, tapi juga ilmu baru dengan melihat inovasi-inovasi di luar sana, sekaligus nilai-nilai pendidikan Islam yang ditanamkan ke semua siswa.
